Annyeong Haseyo.....Welcome To My World......

LOVELY....WITH YOUR HEART AND YOUR LOVE....

Selasa, 29 Mei 2012

Anugerah di Malam Takbiran

          Pagi hari yang dingin membuatku malam bangun dari tempat tidurku. “Icha…ayo bangun…nanti keburu imsak nih..!!!”teriak ibuku dari luar kamar. “Ah…Ibu…”ucapku sambil bergerak turun dari tempat tidurku yang hangat. Kuusap mataku agar bisa terbuka sempurna. Jam di dinding menunjukkan pukul 03.30., waktunya sahur. Di meja makan, aku duduk di depan Ilham,adikku yang masih berusia 10 tahun, yang lebih bersemangat menyambut acara sahur pagi ini. Aku memandangnya dan dia balik memandangku. “Kenapa???”kataku ketus. “Wajah kakak lucu kalau marah…hahahaha…”ledeknya. “Dasar…”gerutuku kesal. Perbedaan usia kami yang terpaut 8 tahun, membuat kami tidak terlalu akrab, sehingga kami sering bertengkar hal-hal yang sepele yang sering membuat ibuku sakit kepala. Kami memang hidup hanya bertiga, ayahku telah meninggal sewaktu 5 tahun lalu akibat penyakit jantungnya. Ibukulah yang menjadi tulang punggung keluargaku, dan nanti kalau aku lulus SMA, akupun harus membantu perekonomian keluarga dengan bekerja dan tidak perlu kuliah.
            “Hari ini kita akan masak apa bu??”tanyaku penasaran. “Kamu ingin makan apa??’tanya ibu. “Aku ingin makan ketupat sayur dan ayam goreng…”kataku sambil tersenyum. “Oke..kita akan buat itu…”kata ibu. Aku memeluk ibu dengan erat. “Ilham kemana???”tanya ibu tiba-tiba. “Tidak tahu…mungkin dia main ke rumah temannya…”kataku sambil menonton televise. “Panggil adikmu…suruh dia mandi pagi dulu…sudah jam sembilan masih belum mandi…”omel ibuku, seperti biasa. “Biarkan saja..ntar juga pulang sendiri...”kataku sambil mengganti chanel televisi. “Icha....”kata ibu sambil memandang ke arahku. Aku menghela nafas, ucapan dan pandangannya mengisyaratkan kalau aku harus pergi menjalankan perintahnya. “Okey...okey...”kataku sambil beranjak pergi.
            Setelah keliling kampung mencari keberadaan adikku, akhirnya aku memutuskan untuk istirahat lebih dulu. “Ke mana dia??Dasar bisanya merepotkan saja...”omelku kesal. Sambil duduk di bawah pohon mangga yang sangat teduh, aku melihat aktifitas di berbagai rumah yang ada di depanku. Aku melihat seorang anak sebayaku sedang sibuk mengecat rumah bersama ayahnya sambil tertawa gembira di rumah berwarna hijau muda. Di rumah berwarna putih bersih, aku melihat sepasang suami istri sedang sibuk bermain dengan anak-anak mereka di halaman. Sedangkan di rumah warna biru, aku melihat ada kerabat yang pulang kampung dari luar kota dan disambut dengan gembira oleh seisi rumah. Aku membayangkan, betapa senangnya jika hal itu bisa terjadi di keluargaku. “Senang ya, jika lebaran ada yang berbeda dari hari biasanya...ada sesuatu yang ditunggu dan dirindukan di hari biasa..”kataku pelan. Aku teringat ayahku dan kuputuskan untuk mengunjungi makamnya, padahal nanti sore aku dan ibuku serta adiku juga akan mengunjunginya untuk mendoakan ayahku.
            “Ternyata dia ada disini...”ucapku lirih. Kulihat adikku sedang duduk di pinggir makam ayah. Sayup-sayup terdengar suaranya yang tampak sedih. “Ayah...seandainya ayah masih ada..tentu aku punya teman bermain dan bercanda...aku iri dengan teman-temanku yang lain yang selalu membicarakan ayahnya...sementara aku...aku tidak tahu bagaimana ayah, seperti apa ayahku, dan kegiatan favorit ayah apa...aku bahkan tidak tahu wajahmu...sungguh sangat menyebalkan..”katanya sambil memandang makam ayah. “Ilham...”kataku sambil menahan sedih. “Sebenarnya aku ingin bisa bermain dengan kakak, tapi aku tidak tahu permainan apa yang kakak suka, karena aku tidak pernah melihat kakak bermain...yang sering kulihat, kakak selalu sibuk belajar, bermain musik, latihan dance...aku ingin sekali bisa dekat dengannya....”kata Ilham seperti mengadu dengan orang yang masih hidup, padahal yang dia ajak bicara hanyalah sebuah makam. “Dasar!!!padahal dia yang selalu memusuhiku...”gerutuku. “Oh ya...ada paman baik yang dekat dengan ibu...dia teman kerja ibu...dia sangat ramah dan juga pandai bermain sepak bola...aku ingin dia bisa jadi ayahku..tapi sepertinya kakak tidak suka padanya...kakak sudah sering bertengkar dengan ibu hanya masalah paman itu...dan gara-gara itu, paman tidak pernah lagi datang ke rumah...padahal aku pengin sekali punya ayah lagi...tapi ayah tidak perlu khawatir...ayah tetap menjadi ayah terbaik yang pernah aku punya...”Ilham berhenti bicara sejenak dan menghela nafas. Aku hanya menunduk sedih. “Kenapa??”tanya seseorang dibelakangku. Aku kaget lalu menengok ke belakang. “Om Rudi...”teriakku kaget. “Ssstttt...pelan-pelan..nanti terdengar sama Ilham..”katanya sambil menutup mulutnya. Aku mengangguk.
            Sore hari menjelang maghrib, ibu sibuk menyiapkan menu buka puasa. “Hhmmm…baunya enak sekali…ibu buat makanan favorit Ilham ya…”tanya Ilham sambil memeriksa dapur. Aku melihatnya sambil tersenyum. “Wah…ibu baik sekali….terima kasih ya…”teriak Ilham setelah melihat makanan favoritnya sudah tersedia diatas meja makan. Ibu dan Ilham sama-sama tersenyum bahagia. “Semoga Om Rudi mau memberikan jawabannya malam ini...”batinku sambil tersenyum menghampiri ibu dan Ilham.
*Flashback di pemakaman siang tadi*
            “Kenapa om ada disini??”tanyaku pada Om Rudi. Om ingin memastikan kalian berdua baik-baik saja…”katanya sambil mengacak rambut pendekku. “Om…jangan rusak rambutku dong…kemarin baru masuk salon nih…”gerutuku kesal. Om Rudi hanya tertawa, “Kamu tidak berubah sama sekali dari 2 tahun lalu…terakhir kali kita bertemu…”katanya. “Om kemana saja???”tanyaku penasaran. “Kenapa??Kamu kangen ya??”candanya. “Ah…tidak kok….memang tidak boleh bertanya ya??”elakku sambil pura-pura melihat Ilham. “Om harus menemukan akal supaya bisa masuk ke keluargamu….”kata Om Rudi sambil tertawa. Aku hanya cemberut. “Tidak…tidak…Om bercanda…Om ditugaskan untuk belajar di luar negeri...tapi sekarang sudah selesai kok…dan om bisa pulang ke sini…” kata Om Rudi jelas. “Om Rudi masih menyukai ibu??”tanyaku tiba-tiba. Om Rudi kaget lalu tertawa. “Tentu saja…disana begitu tersiksa tidak bisa meluhat ibumu dan kamu juga Ilham…waktu tersa sangat lama…”katanya sambil memandangku. “Apa Om Rudi sayang juga pada Ilham???”tanyaku pelan. “Tentu saja...sangat sayang pada Ilham dan juga kamu...”katanya sambil mengusap rambutku. “Apakah Om Rudi masih mau menjadi ayah tiri bagiku dan juga Ilham, meski dalam hati kami masih ada ayah kandung kami??”tanyaku. Om Rudi diam dan memandangku dan Ilham bergantian. Kulihat Ilham sudah beranjak meninggalkan makam ayah. Aku bersiap mengejar Ilham. “Jawabannya kutunggu nanti malam ya Om...di rumah...”kataku sambil pergi meninggalkan Om Rudi. “Jangan lupa bawa kembang api...Ilham sangat suka dengan kembang api...”teriakku dari jauh.
*Flashback selesai*
            Suara gema takbir bergumandang di seluruh pelosok kampung. Aku hanya duduk di depan televisi sambil terus memperhatikan jam dinding. Ilham ikut tekbir keliling di masjid. Ibu menata jajan dan kue kering dalam toples kecil. Tiba-tiba suara yang sering kudengar menggema di depan rumah. “Rudi…”kata ibuku pelan. Aku melihat ke ruang tamu dan kulihat Om Rudi datang dengan membawa banyak bungkusan. Om Rudi tersenyum lalu menemui ibuku dan berbicara sebentar di ruang tamu. “Paman!!!”teriak Ilham yang pulang dari masjid. Om Rudi langsung memeluk dan menggendong Ilham. “Wah kamu sudah besar sekarang ya...sudah bisa jadi jagoan ibu dan kakakmu dong..”kata Om Rudi sambil tertawa. Aku melihatnya dari belakang ibu yang sedang tersenyum bahagia. “Tapi labih galakan kakak daripada aku...”kata Ilham sambil melirikku. Aku memelototinya. “Tuh kan??”katanya sambil memeluk Om Rudi. “malam ini aku ingin sekali melamarmu untuk menjadi ayah dari Icha dan Ilham...”kata Om Rudi sambil memberikan cincin putih kepada ibu. Ibu melihat ke arahku. Aku mengangguk pelan. Ibu tersenyum dan mencium keningku. “Terima kasih sayang...”kata ibuku sambil menangis terharu.
            Di halaman rumah, aku, Ilham, ibu dan Om Rudi asyik bermain kembang api. Ilham terlihat sangat gembira. “Kenapa akhirnya kamu menyetujui hal ini?”tanya ibu penasaran. Aku hanya tersenyum. “Icha pikir...sudah saatnya ibu punya orang yang bisa diajak berbagi cerita dengan ibu...dan itu akan mengurangi beban ibu..ya kan??”kataku sambil memandang ibu. “Lagipula...sekarang Icha sudah ada tempat yang bisa diajak cerita kok...hehehe..”kataku sambil tertawa kecil. “Wah..kakak sudah punya pacar...”ledek Ilham. “Benarkah itu??”kata ibu senang. Aku mengangguk. “Tidak boleh...calon pacarmu harus menerima tantangan dulu dariku...sebelum dia resmi jadi pacarmu...”teriak Om Rudi. “Kenapa??”tanyaku kesal. “Karena aku adalah ayahmu...ingat itu...”katanya sambil berwajah serius. Aku hanya mencibirnya lalu memeluk ibuku. “Aku hanya bisa berharap...Om Rudi eh salah ayah Rudi bisa menjadi ayah yang baik bagiku dan juga Ilham....sehingga dia menjadi anugerah di malam lebaran tahun ini..”batinku sambil terus memelukku. “Wah...kembang apinya indah sekali...”pekik ibu melihat kembang api yang dipegang Ilham dan Om Rudi. “Bagus sekali bukan??”teriak Ilham. Kami semua bahagia dan terus tertawa di malam yang diiringi gema takbir yang mengalun merdu.

^^^^^S.E.L.E.S.A.I^^^^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

penulis

penulis

Halloooo.....

Foto saya
Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
You can add me on fb ; Sung Anggie Hyolic or send to my email : My_stories54@yahoo.co.id Selamat menikmati blog pribadiku.... Gamsahamnida...