Annyeong Haseyo.....Welcome To My World......

LOVELY....WITH YOUR HEART AND YOUR LOVE....

Selasa, 29 Mei 2012

Winter Child (Season Story #1)

             Musim dingin ini terlalu dingin bagiku, hingga aku malas bangun pagi untuk berangkat ke sekolah. “Nina….ayo bangun dan siap-siap ke sekolah…”teriak mama dari luar kamar. Aku pun terpaksa bangun dan bergegas menuju kamar mandi, meski badan terasa dingin membeku. Pengasuhku, Darsih, asal Jawa ikut membantu memandikanku. “Dingin ya non???”tanyanya. Aku hanya mengangguk. Pukul 07.30, aku masih duduk di depan cermin dan melihat Darsih mendandaniku. Kulihat diriku di cermin. Namaku Nina, usiaku sekarang 12 tahun dan masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 6. Aku adalah anak tunggal dari pasangan suami istri yang sibuk bekerja, setelah kakak laki-lakiku meninggal karena kecelakaan mobil. Karena perasaan trauma yang melanda orang tuaku, akhirnya kamipun pindah dari negara Indonesia ke negara Korea Selatan, dan kini kami tinggal di kota Seoul, jantungnya Korea Selatan.
            Sarapan pagi seperti biasanya. Aku melihat Yanti, pembantu kami, menyiapkan sarapan di atas meja. Papa yang sibuk membaca koran di meja makan dan mama yag sibuk berbicara dengan seseorang melalui telepon genggamnya. “Silakan di makan tuan,nyonya dan non Nina...”kata Yanti, sambil menundukkan badannya. “Terima kasih Bik..”balasku sambil tersenyum ke arah Yanti. Yanti pun tersenyum ke arahku. “Ayo kita makan…”kata papa sambil menutup korannya dan makan roti panggang yang ada didepannya. Mamapun mengakhiri pembicaraannya dan ikut makan dengan masih sibuk melihat catatannya. Aku hanya bisa diam dan menatap orang tuaku yang makan dengan kesibukan masing-masing.
            Sepanjang perjalanan ke sekolah, jalanan dipenuhi salju yang lumayan tebal. “Non Nina masih kedinginan??”tanya Ajay, sopir pribadiku. “Tidak…sudah cukup hangat kok..”kataku sambil merapatkan jaketku. Sampai di taman dekat komplek perumahanku, aku melihat sesosok anak laki-laki berjalan kaki sendirian. Akupun turun dan menghampirinya. “Hey..kamu mau kemana??”tanyaku sambil melihat anak laki-laki yang sebaya denganku itu. Anak itu hanya diam dan melihat mobilku. Aku melihat seragam sekolahnya yang ternyata sama denganku. “Ikut aku saja…kita satu sekolah bukan??”ajakku sambil menarik tangannya. “Aduh…dinginnya!!!”pekikku kaget ketika menyentuh tangannya yang begitu dingin. Anak laki-laki itu menatapku. Aku juga menatapnya, berharap dia cepat memberi jawaban, karena aku mulai merasa kedinginan. Akan tetapi, tiba-tiba dia lari menjauh dariku. “Hey!!!Hey!!!”kagetku sambil berteriak memanggilnya. Aku hanya bisa berdiri dan melihat punggungnya sampai menghilang di tengah kerumunan pejalan kaki.
            Palajaran kali ini adalah pelajaran yang paling tidak bisa kupahami, pelajaran sastra Korea.  Pelajaran yang menyebalkan dengan guru yang membosankan. “Hey Nina...ayo kita keluar!!”bisik Ji Min padaku. Ji Min adalah sahabatku di sekolah. Dia satu-satunya orang yang bisa mengerti aku dan bisa membuatku senang. “Okey!!”kataku. kamipun akhirnya bisa meninggalkan kelas dengan alasan sakit dan butuh obat. “Lama-lama aku bisa gila disana…”kata Ji Min sambil tertawa. “Aku apalagi...tidak mudah dipahami...betul-betul sulit...”kataku sambil merangkul pundak Ji Min. Kamipun pergi ke taman belakang sekolah untuk bercerita dan bercanda seperti biasa yang kami lakukan.
            Malam minggu, Ji Min menginap di rumahku, dan kebetulan orang tuaku ada urusan di luar negeri selama 1 bulan, sehingga Ji Min kuminta untuk menemaniku malam ini. “Senang ya jika jadi kamu...punya orang tua lengkap, rumah mewah, mobil pribadi, pokoknya hidupmu benar-benar sempurna...”kata ji Min sambil tersenyum. “Kamu mau hidup seperti ini?”tanyaku. Ji Min mengangguk pasti. “Aku malah iri denganmu...”kataku sambil menatap ke depan. Ji Min menunjukkan wajah bingung. “Kenapa??kan ayahku sudah tiada dan ibuku harus bekerja keras sebagai pedagang makanan untuk menghidupi aku dan adik-adikku. Pasti terasa sangat berat jika hidup sepertiku. “kata Ji Min sambil menatapku. “Iya..tapi keluargamu sangat menyenangkan...ibumu ramah, adik-adikmu lucu...pokoknya keluargamu penuh dengan kehangatan. “kataku pelan. Ji Min hanya bisa diam memandangiku.
            Minggu pagi, aku mengantar Ji Min pulang ke rumahnya dan ikut sarapan dengan keluarga Ji Min di kedainya. “Enak sekali masakannya tante...”pujiku sambil terus makan dengan lahapnya. “Makanlah dengan perlahan, jangan sampai tersedak…”kata ibu Ji Min pelan. Ji Min dan adik-adiknya tertawa melihat tingkah makanku yang seperti orang puasa 1 bulan penuh. “Ji Min, aku pulang dulu…sampai ketemu besok ya…”pamitku pada Ji Min. “Hati-hati di jalan Nina...”teriak Ji Min di belakangku. Aku mengangguk dan melambaikan tanganku lagi ke arahnya. Ketika melewati taman komplek, aku teringat anak laki-laki yang pernah kulihat. Dan ketika aku masih memikirkannya, tiba-tiba mataku menangkap sosok anak itu sedang duduk di pinggir kolam sambil bermain boneka salju hasil buatannya. Aku berlari ke arahnya dan menyapanya. “Hai…”sapaku ramah. Anak itu melihatku sepintas dan mulai membuat boneka salju lagi. Aku melihatnya membuat boneka salju. Dengan cepat boneka saljupun jadi. “Ini boneka saljumu…”katanya sambil tersenyum. Aku senang, akhirnya anak laki-laki itu mau berbicara padaku. “Terima kasih...”kataku sambil mulai mendekati boneka salju buatannya. “Hai..namaku Nina..kamu siapa??”aku pun berpura-pura menjadi pengisi suara boneka salju. Anak laki-laki itu tertawa melihat tingkahku. “Aku Dae Woo...”katanya sambil tersenyum. Akhirnya kamipun akrab dan kami menghabiskan hari Minggu dengannya.
            “Siapa Dae Woo Non??”tanya Darsih penasaran. “Teman baruku Bik, sekarang aku sudah punya 2 teman di Seoul..”ucapku bangga. “Alhamdulillah...yang penting Non senang..”kata Bik Darsih sambil memelukku. “Iya…”kataku sambil tersenyum. “Bibik sempat khawatir dengan keadaan Non, sejak kematian Den Bagas 3 tahun lalu, Non Nina tidak pernah ceria lagi…suka menyendiri…suka murung…suka melamun….Bibik khawatir Non…”kata Bik Darsih sambil menangis. Aku memeluk pengasuhku sejak bayi itu erat. Dia sudah seperti ibu kandungku sendiri.
            Satu bulan sudah aku sering bermain dengan Dae Woo. Perasaanku yang dulu pernah hilang, kini mulai berseri di dalam hatiku. Aku dan Dae Woo berbaring di atas salju yang mulai tipis, karena musim akan segera berganti. “Musim semi akan segera tiba, nanti maukah kamu menemaniku melihat mekarnya bunga-bunga di taman??”tanyaku. Dae Woo hanya tertawa. “Aku manganggap tawamu itu berarti setuju…”kataku keras. Dae Woo menatapku sambil tersenyum. “Kamu sudah merasa hangat??”tanyanya. Aku mengangguk karena memang sudah memasuki musim semi. “Aku juga…sudah tidak merasa kedinginan lagi…”kata Dae Woo sambil tersenyum. Ada kelegaan dalam wajahnya yang tidak bisa kumengerti artinya. “Nina…maukah kamu jadi temanku selamanya???”tanya Dae Woo serius. “Tentu saja…kamu akan menjadi teman terbaikku sepanjang masa..”kataku sengan tersenyum lebar. “Dan selalu berada dalam hatimu???”tanya Dae Woo cepat. Aku mangangguk pasti. Dae Woo menatapku dengan sangat senang dan matanya mulai berkaca-kaca. “Terima kasih…Nina…”kata Dae Woo pelan tapi pasti. Kabut tipis mulai menghalangi pandanganku, aku tidak bisa melihat Dae Woo lagi. “Dae Woo!!!Dae Woo!!”teriakku. Tapi tiba-tiba, aku melihat sebuah bus melaju ke arahku dengan kencang. Aku hanya bisa menutup mata dan berteriak sekeras-kerasnya. Dan akupun tidak ingat lagi kejadian sesudah itu.
            Aku berusaha membuka mataku, kulihat mama, papa, bik Darsih sedang menangis. ‘Ada apa ini??Di mana aku??’batinku. Papa menghampiriku dan berteriak memanggil dokter. Mama memelukku erat dan bik Darsih menangis sambil mengucap syukur berkali-kali. Mama terus menatapku dan mengusap wajahku. Papa masih berbicara dengan dokter di sudut ruangan. “Apa yang terjadi?”tanyaku bingung. “Sudahlah sayang...yang penting sekarang kamu selamat...”kata mama sambil memelukku erat. Aku mulai merasakan kehangatan mama lagi. “Mama...”ucapku sambil menangis.
            Musim semi sudah hampir berlalu. Aku telah menghabiskan hampir seluruh musim semi ini di rumah sakit untuk pemulihan pasca operasi karena kecelakan. “Nina...lihat bunga itu sangat indah bukan??”tanya Ji Min sambil mendorong kursi rodaku memutari taman komplek. “Iya...indah sekali...”kataku sambil tersenyum pada Ji Min, sahabatku. Hari itu, aku menghabiskan hari bersama Ji Min dan tentunya orang tuaku yang terus mengawasi kami di kursi taman, dan tentu saja Bik Darsih ikut serta dalam piknik keluarga ini. “Lihat matahari mau terbenam...”teriak Ji Min. Aku melihat matahari itu dan terus berpikir tentang Dae Woo. Anak dingin itu telah menjadi hangat dan menjadi kehangatan dalam hatiku, semoga bisa selamanya. Kamipun berfoto dengan latar matahari terbenam.
*Flashback*
            Dae Woo kaget dengan kemunculan Nina yang menawarinya tumpangan. ‘Dia bisa melihatku??’pikirnya. Dilihatnya Nina yang terus menawarinya tumpangan. Cae Woo lalu melihat tanda kematian yang akan menimpa Nina, tapi dia lalu melihat pengawas rohnya datang sehingga Dae Woo memilih kabur untuk menghindari pengawas roh itu.   “Jika dia melihatku bersama anak itu, maka anak itu dalam bahaya.”kata Dae Woo sambil terus mengamati kepergian Nina dengan mobil mewah. Tanda kematian itu, membuat Dae Woo terus memikirkannya dan akhirnya selalu membuntuti Nina. “Ternyata dia sepertiku...begitu kesepian di dunia ini dan merindukan kehangatan..”kata Dae Woo pelan sambil menatap Nina yang  sedang berbicara dengan Ji Min di malam minggu. Dae Woo mengikuti Nina yang baru pulang dari rumah Ji Min, dan kejadian itu terjadi juga. Sebuah bus yang melaju kencang menuju ke arah Nina yang sedang berjalan pelan. Dae Woo yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa melihat Nina tertabrak bus itu dan tergeletak di jalan dengan tubuh penuh darah. Dae Woo pun teringat kejadian yang dialaminya beberapa tahun lalu yang sama persis dengan Nina. “Anak itu akan kembali hidup jika dia menemukan kehangatan dalam hatinya”kata pengawas roh tiba-tiba. Dae Woo melihat Nina dan merasa dia harus menolongnya. “Aku tidak ingin kamu nanti menjadi seperti aku, menjadi anak dingin yang tidak pernah merasa kehangatan”kata Dae Woo sambil terus menemani Nina bermain salju.
*Flashback End*


^^^^^S.E.L.E.S.A.I^^^^^
             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

penulis

penulis

Halloooo.....

Foto saya
Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
You can add me on fb ; Sung Anggie Hyolic or send to my email : My_stories54@yahoo.co.id Selamat menikmati blog pribadiku.... Gamsahamnida...