Annyeong Haseyo.....Welcome To My World......

LOVELY....WITH YOUR HEART AND YOUR LOVE....

Selasa, 29 Mei 2012

Rain in Summer (Season Story #3)


          Aku melangkah menyusuri jalanan menuju rumah. Ajay memang kusuruh untuk tidak menjemputku. Aku memutuskan untuk pulang sendiri karena sekarang aku bukan anak kecil lagi. Aku Nina, usiaku sekarang 20 tahun. Peluh yang membanjiri punggungku membuatku gatal. “Ya ampun, di sini panas sekali…”gumamku sambil melirik matahari yang bersinar dengan terang di tengah hamparan langit biru. Sekarang aku berada di Indonesia, kampung halamanku. Mama mengabarkan bahwa papa masuk rumah sakit karena panyakit jantung. Sebenarnya aku ingin mengajak Han Soo juga untuk kuperkenalkan sebagai kekasihku. Tapi sepertinya waktunya tidak tepat dan Han Soo masih sibuk dengan proyek terbarunya di Seoul.
          Kamarku yang dulu masih terlihat sama, hanya tempat tidurnya saja yang berubah. “Bagaimana Non….suka dengan kamar Non Nina yang baru??”tanya Bik Darsih. “Iya Bik…ternyata masih sama…cumin yang berubah hanya tempat tidurnya…”kataku sambil duduk di atas tempat tidur. “Iyalah Non…masak Non Nina masih mau tidur di tempat tidur berbentuk hello kitty???”canda Bik Darsih. “Kalau masih muat gak apa-apa kok…”kataku sambil tersenyum. “Bisa aja Non Nina ini, ya udah Non, saya mau membuat makan malam dulu buat Non Nina...”kata Bik Darsih lalu pergi. Aku mengamati kamarku dan tersenyum. “Aku kembali lagi ke sini...”kataku.
          Aku membacakan cerita kepada papa. Sekarang giliranku untuk menjaga papa, karena mama harus mengurus perusahaannya dan milik papa. “Bagaimana pa...menarik bukan ceritanya...”tanyaku pada papa yang sedang terbaring koma di tempat tidur ruang ICU. Kugenggam tangan papa dan kucium tangannya. “Pa...Nina pulang...sekarang buka mata papa ya...katanya papa ingin melihat Nina yang sudah menjadi mahasiswi di universitas terbaik di Korea??”tanya Nina pelan. Papa Nina hanya diam tak bergerak. “Maafkan Nina pa...karena tidak pulang pada saat papa menyuruh Nina pulang...”kata Nina mulai menangis.
          Malam yang dingin di tengah musim panas. Aku berusaha menghubingi Han Soo lewat ponselnya, tapi selalu saja gagal. “Kenapa tidak bisa terus ya...”omelku cemas. Sudah 2 minggu aku berada di Indonesia, dan baru kali ini aku mencoba menghubungi Han Soo. “Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu padanya...”harapku. akhirnya kutekan nomor yang sudah kuhafal di luar kepala, Ji Min ah. Malam itu kuhabiskan pulsaku untuk menelpon Ji Min, sahabatku.
          Sudah 1 bulan, papa belum sadar dari komanya. Dan kata dokter, papa masih dalam kondisi kritis. Juga Han Soo yang belum juga bisa kuhubungi. Hal ini tentu membuatku sangat cemas dan takut. Selalu terngiang-ngiang kata-kata Ji Min. “Aku tidak pernah melihat Han Soo lagi setelah kamu ke Indonesia…dia seperti hilang di telan bumi…”kata Ji Min beberapa waktu lalu. Aku menutup mataku dan berharap, semoga kedua laki-laki yang kusayangi baik-baik saja. Mama memberiku minuman soda yang sangat dingin. “Tentu di sini kamu merasa kepanasan ya...”kata mama sambil meminum sodanya di sampingku. Aku mengangguk dan meminum sodaku sampai habis. “Maaf bu...dokter Adi ingin bicara dengan ibu...”kata perawat yang menghampiri mama. “Baiklah....mama tinggal dulu ya sayang...”kata mama sambil mengikuti perawat itu pergi. Aku melihat papa yang sedang terbaring dari luar kamar. “Papa....”ucapku lirih.
          Aku merasa kedinginan di tengah musim panas. “Kenapa...kenapa aku mersa dingin sekarang…”tanyaku bingung. Teringat kembali kata-kata Dae Woo, “Meski aku tidak nyata, tapi aku akan hidup dalam hangatnya dirimu…jadi tolong jangan buat dirimu jadi kedinginan lagi…agar aku bisa terus hidup…”kata Dae Woo sesaat sebelum menghilang dari pandanganku. Aku menutup mataku dan berusaha mencari penyebab aku menjadi sedingin ini.
          Sarapan yang sepi bersama mama. “Hari ini kita ke rumah sakit bersama ya…”ajak mama. “Baik ma...”jawabku singkat. “Tapi kenapa wajahmu sekarang jadi kusut seperti itu??”tanya mama sambil melihat wajahku. “Mungkin kurang istirahat kali ma...”jawabku asal sambil terus makan roti panggangku. “Apa kamu mau istirahat di rumah saja??”tanya mama penuh perhatian. “Tidak usah...aku akan tetap pergi ke ruamh sakit...”kataku cepat. Mama tersenyum. “Ada masalah dengan Han Soo??”tanya mama. Aku mengangguk. “Coba katakan pada mama, apa yang terjadi..”kata mama memegang tanganku. “Sudah 1 bulan lebih, Han Soo tidak bisa kuhubungi...kata Ji Min, dia juga tidak pernah melihatnya di Seoul...aku takut ma....aku takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Han Soo...”kataku sambil menangis. Mama memelukku erat. “Sudahlah...Han Soo pasti akan baik-baik saja…mama yakin itu…”kata mama sambil terus memelukku.
          “Papa…papa!!!!!”teriaku keras sambil menangis di samping papa yang tertidur pulas dalam kedamaiannya. “Maafkan kami…kami sudah berusaha semaksimal mungkin…tapi semuanya da di tangan Tuhan…Tuhanlah yang memutuskan…kami turut berduka cita…”kata dokter sambil pergi dari ruangan ICU. “Papa….papa…”teriakku ditengah tangisan yang pecah begitu saja. Mama hanya terpaku memandang papa, lalu mama mencium kening papa. “Mama sayang papa….selamanya...”kata mama. Aku menangis keras hingga suaraku hampir habis selama berjam-jam di ruangan itu.
          Pemakaman papa dilakukan di tengah hujan gerimis di tengah musim panas. Aku masih belum bisa menghentikan air mataku. Meski sudah kututup menggunakan kaca mata hitam, tapi semua tamu yang hadir masih mengetahui bahwa aku sedang menangis. Bahkan ada beberapa yang berusaha menenangkanku.   Prosesi pemakaman telah usai, kini tinggal aku, mama dan Ajay. “Ajay..kamu pulang saja...biar nanti saya yang menyetir sendiri...”kata mama pada Ajay. “Baik...saya permisi dulu...”pamit Ajay lalu pergi di tengah hujan yang semakin deras. “Nina...kamu sayang papa bukan...”tanya mama pelan. Aku mengangguk. “Mama juga...”kata mama sembari memelukku. Hampir gelap, akhirnya aku dan mama memutuskan untuk pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan, mama terus tersenyum. Aku hanya melihat mama yang sejak di pemakaman terlihat aneh. “Tenang saja Nina, papamu di sana sendirian tidak dalam waktu yang lama kok...”kata mama sambil tersenyum memandangku. “Mama...apa maksud mama...”tanyaku bingung. Mama terus memandangiku, tanpa memperhatikan jalan di depannya. Tiba-tiba sirine keras mengagetkanku dan aku melihat mobil kami berada di jalur yang salah. “Mama...lihat ke depan ma...ku mohon...”teriakku sambil berusaha mengendalikan setir yang masih dipegang mama. Mama hanya terus memandagku dengan linangan air mata. Truk besar menuju ke arah kami, lampunya menyoroti bagian dalam mobil dengan begitu terangnya. “Mama!!!!”teriakku keras. Benturan keras pun terjadi. Aku mulai tidak merasakan apa-apa lagi. “Mama...sangat sayang padamu...”kata mama pelan. Lalu semuanya gelap.
          Musim panas hampir berakhir. Aku duduk di atas kursi rodaku. Kakiku masih belum sembuh total. “Nina..makan yang banyak ya...”teriak Ji Min. Dia datang langsung dari Korea setelah mengetahui musibah yang kualami. Aku tersenyum lalu memakan apel yng dikupaskan Ji Min. “Ji Min...kamu sarapan saja dulu..biar aku yang menjaga Nina...”kata Han Soo tersenyum. Ji Min tersenyum nakal. “Baiklah...aku tahu kalian mau berduaan ya kan???”tebak Ji Min sambil tertawa meninggalkan ruanganku. Han Soo melihatku dan memberiku sebuah cincin. “Ini..”kataku sambil memperhatikan cincin gading itu. “Ini dari mamamu…dia memberiku cincin ini sesaat sebelum mobil itu meledak...”kata Han Soo. Aku mencoba memakai cincin itu. ‘Sini..biar aku saja yang memakaikan untukmu..”kata Han Soo dan dia memakaikan cincin di jari manisku. “Dengan ini…aku akan terus menjagamu selamanya…’kata Han Soo sambil memelukku. Rasa hangat langsung menyergap tubuhku seperti ketika mama memelukku. “Terima kasih….terima kasih banyak Han Soo….”kataku.
*Flashback*
          Han Soo mengendarai mobil sewaanya dengan mengikuti mobil yang dikendarai Nina dan mamanya. “Kenapa mobil itu oleh terus…”cemas Han Soo. Han Soo terus membunyikan klaksonnya, mengingatkan Nina dan mamanya. Han Soo membuka jendela dan mendekati mobil Nina. “Nina!!!Nina!!!”teriak Han Soo. Nina tidak mendengar karena masih ibuk membangunkan mamanya dari keputus asaannya. Tiba-tiba truk menabrak mobil Nina dan mamanya. Han Soo tercengang melihat mobil itu yang berbalik dan berputar tak tentu arah hingga akhirnya berhenti di tengah jalan raya yang padat. “Nina!!!Nina!!!”teriak Han Soo langsung menghampiri mobil Nina. Tampak di matanya Nina tak sadarkan diri dan Han Soo berusaha keras mengeluarkannya dari mobil itu. “Nina!!Nina!!!”panggil Han Soo pelan. Lalu dia teringat dengan mama Nina. “Kamu Ha n Soo bukan??”tanya mama Nina dalam mobilnya. “Iya...tante akan segera kukeluarkan dari sini. Tapi mama Nina terjepit di antara kemudi dan tempat duduk. “Sudahlah...aku hanya ingin menemani papanya Nina saja...oh ya..kasihkan ini ke Nina dan berjanjilah kamu akan menjaga dan melindungi Nina serta selalu menyayanginya..”kata mama Nina. “Baiklah...saya berjanji...”kata Han Soo sambil memegang tangan mama Nina. “Tiba-tiba, api muncul dari dalam mesin mobil dan dengan cepat menyambar tangki mobil. “Pergilah!!!”teriak mama Nina. Han Soo dengan berat hati berlari ke arah Nina yang terbaring di pinggir jalan. ‘Duuuaaarrrr!!!!”mobil pun meledak dengan kerasnya. Asap hitam melambung tinggi ke angkasa. Han Soo menatap mobil yang terbakar itu sambil meneteskan air matanya. “Selamat jalan tante…semoga tante bahagia di sana…”kata Han Soo sambil menggendong Nina.
*Flashback End*

^^^^^S.E.L.E.S.A.I^^^^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

penulis

penulis

Halloooo.....

Foto saya
Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
You can add me on fb ; Sung Anggie Hyolic or send to my email : My_stories54@yahoo.co.id Selamat menikmati blog pribadiku.... Gamsahamnida...